FOLLOW YUK !
0821-3665-3479

open trip sikunir

Dieng Culture Festival 2015

Published on July 23, 2015 under open trip sikunir
Dieng Culture Festival 2015

Budaya dan alam Dataran Tinggi Dieng akan berkolaborasi menghasilkan daya pikat yang unik dan memukau. Jika Anda penasaran apa saja yang bisa didapat di sana maka kunjungilah Dieng Culture Festival (DCF) 2015 yang akan diselenggarakan pada 1-2 Agustus 2015.

DCF yang dihelat untuk keenam kalinya ini merupakan pesta budaya terbesar di Dieng. Festival akan dimulai dengan jalan sehat sembari menikmati hangatnya purwaceng, minuman herbal khas Dieng. Anda juga dapat menikmati serangkaian atraksi seni budaya, mulai dari pertunjukkan wayang kulit di tengah hawa dingin, pameran kerajinan khas Dieng, festival film indie pelajar, pesta balon dan lampion, serta meriahnya pagelaran ‘jazz di atas awan’.

Selain itu, saksikan upacara yang paling ditunggu-tunggu wisatawan yakni ruwat rambut gimbal. Di Dieng, beberapa anak memiliki rambut gimbal asli yang dilatarbelakangi keyakinan dan mitos warga setempat. Pada puncak acara DFC, rambut anak-anak yang gimbal secara alami tersebut akan dipotong kemudian diupacarakan untuk dilarung ke sungai. Rambut gimbal tersebut haruslah dipotong, konon katanya bila rambut gimbal dibiarkan, masyakat Dieng percaya anak itu beserta keluarganya akan terancam musibah.

Anak-anak tersebut memiliki rambut normal saat lahir namun suatu waktu mereka tiba-tiba akan mengalami kejadian-kejadian tertentu yang diyakini sebagai awal mula tumbuhnya rambut gimbal, yaitu suhu badan meninggi diikuti dengan tumbuhnya bintik kecil di kepala. Lama kelamaan, bintik itu membesar dan rambutnya akan menggimbal, saat itu pula orang tua sudah tau bahwa anaknya merupakan keturunan Tumenggung Kolo Dete, pertapa berambut gimbal dari Majapahit.

Sebelum upacara pemotongan rambut akan dilakukan ritual doa di beberapa tempat agar upacara dapat berjalan lancar. Tempat-tempat tersebut adalah: Candi Dwarawati, komplek Candi Arjuna, Sendang Maerokoco, Candi Gatot Kaca, Telaga Balai Kambang, Candi Bima, Kawah Sikidang, komplek Pertapaan Mandalasari (gua di Telaga Warna), Kali Pepek, dan tempat pemakaman Dieng.

Malam hari sebelum prosesi akan dilakukan Upacara Jamasan Pusaka, yaitu pencucian pusaka yang dibawa saat kirab anak-anak rambut gimbal. Keesokan harinya baru dilakukan kirab menuju tempat pencukuran, si anak diarak dari rumah sesepuh pemangku adat dan berhenti di dekat Sendang Maerokoco atau Sendang Sedayu, tempat penyucian rambut. Setelah itu, barulah ritual pemotongan rambut dilaksanakan. Potongan rambut gimbal tersebut kemudian dihanyutkan ke Telaga Warna yang menandakan bahwa rambut tersebut dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Ratu Laut Kidul.

Acara ini diperkirakan mampu menarik lebih dari 15 ribu pengunjung sehingga wisatawan disarankan memesan penginapan dari jauh hari sebelumnya. Jika Anda ingin tinggal di desa sekitar Dieng, ada banyak losmen kecil dan hotel di sini. Anda juga dapat tinggal di rumah penduduk yang dapat disewa dengan harga relatif murah.Terdapat beberapa homestay di Dieng Kulon maupun Dieng Wetan.

Dataran Tinggi Dieng sendiri terletak di dua kabupaten sekaligus. Sebagian bernaung di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan sebagian lagi berada di Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dataran tinggi Dieng bagaikan ‘negeri di atas awan’ karena terhampar di ketinggian 2.000 m di atas permukaan laut membuat udaranya sejuk dan menyegarkan serta ditutupi kabut tebal. Karena keindahannya yang menakjubkan inilah diyakini bahwa Dieng dipilih sebagai kawasan sakral dan tempat bersemayamnya Dewa Dewi.

http://www.indonesia.travel/id/event/detail/1111/dieng-culture-festival-2015

Sunrise Nan Menawan di Bukit Sikunir Dieng

Published on February 26, 2015 under open trip sikunir
Sunrise Nan Menawan di Bukit Sikunir Dieng

Terletak pada ketinggian 2.263 mdpl, disebut sebut Sikunir menjadi surganya para pencari sunrise.

Untuk mencapai Bukit Sikunir ini dari pusat kawasan Dieng, butuh waktu sekitar setengah jam menggunakan kendaraan baik
motor dan mobil. Desa ini berada di ketinggian sekitar 2.350 meter dari permukaan air laut, sehingga kerap menemui kondisi jalanan terjal dengan naik dan turun yang cukup curam. Maka para wisatawan harus berhati-hati dengan medan yang dilewatinya itu.

Belum lagi, suhu sangat dingin menyergap tubuh kita saat keluar dari rumah atau home stay saat akan menuju lokasi tersebut. Agar bisa melihat pemunculan Golden Sunrise ini, sebaiknya kita berangkat menuju Bukit Sikunir pada waktu subuh.
Cahaya pagi Sikunir bisa dinikmati ketika jarum jam menunjuk ke angka 03.30 WIB. Pendaki setidaknya harus sudah memulai perjalanan dari kawasan sekitar Candi Dieng pada pukul 03.00-04.00 WIB untuk mendapatkan cahaya pagi yang bagus. Suhu bisa mencapai di bawah 10 derajat Celsius pada subuh.

Dari bukit ini, wisatawan bisa memandang tujuh puncak gunung, yakni Sindoro, Merapi, Merbabu, Lawu, Telomoyo, Ungaran, dan Prau di kawasan Dieng. Dari puncak Sikunir, ketika pandangan mengarah ke barat terlihat Telaga Cebong yang bersebelahan dengan perkampungan Sembungan. Di sekitar Bukit Sikunir selain Telaga Cebong juga ada empat telaga lain, yakni Asat atau Wurung, Gunung Kendil, dan dua Telaga Pakuwujo.

Desa Sembungan adalah desa terakhir sebelum mencapai puncak Sikunir. Desa ini berjarak enam kilometer dari kompleks Candi Dieng dan 30 kilometer dari Kota Wonosobo. Desa ini berada pada ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut. Dari Sembungan pendaki perlu menempuh jalan kaki sejauh satu kilometer. Desa Sembungan merupakan permukiman padat yang dikelilingi perbukitan.

foto : www.flickr.com